teks puisi berjudul 10 November karya Toto Sudarto Bachtiar
B. Indonesia
nooryati
Pertanyaan
teks puisi berjudul "10 November" karya Toto Sudarto Bachtiar
1 Jawaban
-
1. Jawaban gumantinr
Kelas : SD
Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kategori : puisi
Kata kunci : 10 November, Toto Sudarto Bachtiar
Pembahasan:
Karya Toto Sudarto Bachtiar tidak ada yang berjudul 10 November. Tetapi kalimat 10 November ada pada puisi yang berjudul 'Pahlawan Tak Dikenal'.
Puisi 'Pahlawan Tak Dikenal' terdapat pada buku kumpulan sajak berjudul ETSA karya Toto Sudarto Bachtiar yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1958. Puisi 'Pahlawan Tak Dikenal' ditulis pada tahun 1953. Sehingga ejaan yang digunakan masih ejaan lama atau ejaan yang belum disempurnakan.
PAHLAWAN TAK DIKENAL
Sepuluh tahun jang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sajang
Sebuah lubang peluru bundar didadanja
Senjum bekunja mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannja memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sajang
Wadjah sunji setengah tengadah
Menangkap sepi padang sendja
Dunia tambah beku ditengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda
Hari itu 10 November, hudjanpun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnja
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi jang nampak, wadjah-wadjahnja sendiri jang tak dikenalnja
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sajang
Sebuah peluru bundar didadanja
Senjum bekunja mau berkata: aku sangat muda
Setelah disempurnakan pada tahun 1976:
PAHLAWAN TAK DIKENAL
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur, sayang
Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu
Dia masih sangat muda
Hari itu 10 November, hujan mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda